Apa Sih Pertukaran Pelajar :)

Pembaca yang aku sayangi. Akhir-akhir ini semakin banyak sekali email yang masuk padaku yang menanyakan bagaimana rasanya hidup di luar negeri, apalagi dalam sebuah program khusus yang namanya pertukaran pelajar. Tidak jarang ada yang mencoba menghubungi aku di semua akun media sosialku. 😉 Sebenarnya hampir semua selalu aku baca. Tapi karena pertanyaannya hampir semuanya sama, beberapa tidak aku balas. Sebenarnya aku sudah sering berbagi cerita dalam tulisan-tulisanku di blog ini yang kategorinya “AFS Italia-Indonesia 2010-2011”. Tak terhitung banyaknya orang nyasar ke blog ini karena ingin mengetahui pengalaman tinggal di luar negeri. Kebanyakan keyword mesin telusur Google yang bikin nyasar ke blog ini kayak ‘tinggal di luar negeri’, ‘AFS Bina Antarbudaya’, ‘pertukaran pelajar’, ‘sekolah di luar negeri’, dan sejenisnya. Aku seringkali senyum bahagia melihat keyword-keyword pencarian tersebut,

karena menandakan semangat dan keingintahuan yang luar biasa dari teman-teman Indonesia, terutama adik-adik SMA yang ngga bosan-bosannya mencari tau : “Ada dunia apa sih di luar Indonesia?” 🙂 Tulisan ini dikhususkan buat adik-adik yang sangat penasaran tentang pertukaran pelajar, sekaligus sebagai dokumentasi kehidupanku agar kenangan indah ini tidak pernah aku lupakan seumur hidupku. Kebetulan aku belum pernah menuliskan secara detail mengenai kekagumanku dalam program ini.

 

sebelumnya, aku mau cerita dulu kehidupanku sewaktu SMP dan SMA. Aku anak SMP dan SMA biasa dengan kehidupan seperti anak lainnya. Tidak ada yang spesial. Sekolah, ngumpul, ekskul, OSIS, dan lain-lain. Tapi ada satu kegiatan yang aku selalu lakukan dari SD, aku suka banget di perpustakaan. Entah itu sendiri atau rame-rame, di manapun aku tinggal dan sekolah, aku selalu ke perpustakaan. Di sana biasanya aku membaca koran, majalah, dan ensiklopedia. Aku sangat penasaran ada apa sih di luar sana. Aku bukan cuma penasaran, tapi sangat-sangat tertarik ke dalam ‘dunia luar’. Saat main Game PS Asterix (Asterix dan Obelix) misalnya, dalam hati aku selalu bertanya-tanya, Romawi itu apa, Gladiator itu apa, Asterix itu hidup di mana, kenapa desanya bagus. Rasa ingin tauku semakin menjadi-jadi ketika beranjak SMA. Mungkin isi kepalaku berbeda dengan teman-temanku. Aku sangat penasaran dengan ada apa di Rusia, di Islandia, Amerika, Chili, dll.

Ketika SMA, aku tidaklah spesial. Tapi banyak yang bilang aku anaknya serius banget, hha. Aku sama sekali tidak pernah berpikir mengikuti pertukaran pelajar, apalagi mencari-cari info tentang itu seperti yang sering pembaca blog ku ini lakukan. Sampai suatu hari, ada kakak kelas yang menawari ikut seleksi AFS. Setelah mendapat ijin orang tua, aku mendaftar. Seleksi AFS sendiri dilakukan di Kota Banjarmasin yang ditempuh satu jam dari Kotaku, Banjarbaru. Singkat cerita, setelah seleksi hampir setahun, aku dinyatakan lolos. Bisakah kalian membayangkan betapa rasa ingin tahuku meledak menjadi ‘lebih buas’ dari sebelumnya? Aku benar-benar tidak fokus lagi sekolah sekitar beberapa bulan sebelum sekolah. Bukan cuma sekolah, kehidupan dengan teman-teman pun aku tidak fokus (mulai jarang ngumpul).

Singkat cerita lagi, akupun berangkat pada 3 September 2010 ari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta dengan tujuan Roma, Italia. Sebelum itu, aku sudah melakukan ‘riset’ super besar-besaran tentang apa itu Italia, Eropa dan lain-lain dari berbagai buku, internet, cerita orang, film, Facebook, buku panduan AFS Italia yang berbahasa Inggris, dll. Ibarat menempuh ujian, aku sudah sangat siap lahir batin dengan soal-soal mengenai Italia. Aku bahkan membawa buku Lonely Planet Italia dan buku kamus Bahasa Indonesia-Italia yang sangat tebal, tidak lupa juga print out data-data dari internet tentang segala hal yang aku butuhkan di sana. Hal terbesar yang aku bawa adalah keingintahuan. Sekali lagi, aku benar-benar tenggelam di dalam rasa ingin tahu. Aku sangat girang sampai rasanya pesawat yang membawa aku ke Roma akan membawa aku ke surga pengetahuan yang dalam.

Aku tidak salah. Setelah 16 jam di atas pesawat ditambah transit di Dubai sekitar empat jam, aku tiba di Roma bersama dua orang temanku yang dari Indonesia (Gea dan Avanti). Ketika sampai, aku benar-benar berjuang merekam semua yang aku rasakan di dalam jiwa dan ragaku. Aku ada di dunia lain, pikirku. Aku benar-benar menghayati semuanya. Kami menginap di sebuah penginapan di daerah Frascati, Roma, dan kami adalah peserta AFS Italia pertama yang tiba di sana. Semuanya benar-benar berbeda dan indah. Italia memang sangat indah dan luar biasa. Bersih, cantik, dan benar-benar berbeda dari Indonesia. Indonesia juga sangat indah, tapi keindahan Italia itu berbeda dengan Indonesia, masing-masing memiliki kelebihan. Dan rasa ingin tahu yang aku bawa dari Indonesia benar-benar membuat kenikmatan itu semakin terasa ke sumsum tulang dan mengalir sampai ke pembuluh arteriku.

Yang pertama aku lihat adalah perbedaan alam daerah tropis dan dingin yang sangat berbeda. Pohon-pohon di sini sejenis dan daunnya kecil-kecil. Tapi, banyak sekali bunga-bunga indah dan itulah yang aku suka. Langit terlihat jauh lebih bersih dari Kota Jakarta, tapi sama bersihnya dengan kota kelahiranku, Kota Banjarbaru. Ketika aku tiba di Roma, saat itu masih musim panas. Yang berbeda adalah udara kering. Kulitku kalau digaruk sedikit saja, sedikit mengelupas. Yang lucu adalah bunga pinus yang kalau di daerah tropis, termasuk Kalimantan berukuran sebesar ibu jari, di Roma berukuran seperti mangkok bakso. Wangi udara pun berbeda. Di daerah penginapan kami, jarang sekali terdengar suara bising kendaraan bermotor. Semua terasa sangat damai, tenang, dan indah.

Terlalu banyak yang harus ditulis kalau diceritakan di sini 😀 hahah. Kita move on ke tahap selanjutnya.

Singkat cerita, setelah melewati masa orientasi dengan beribu-ribu anak AFS lain dari seluruh dunia (Asia, Afrika, Amerika Latin, Amerika, Australia, bahkan Eropa sendiri), kami mulai dikelompokkan sesuai kota tempat tinggal masing-masing. Aku menuju Cesena, di mana orang tua angkatku sudah menanti. Perjalanan ke stasiun kereta api benar-benar membuatku kagum. Oh, ini ya Roma. Terowongan kereta api saja desainnya sangat wow. Sangat indah dan terutama sekali, sangat Eropa. 😀

 

 

Gambar

 

Ada empat orang yang bersama aku dalam kereta menuju Cesena. Foto tersebut diambil saat musim semi 2011 (tujuh bulan setelah tiba di Italia). Dari kiri ke kanan, mereka Francisco (Honduras), Eyrun (Islandia), Daniela (Columbia), Anna (Jerman), presiden AFS Italia, Andrea (pengurus AFS Italia), dan aku ;D. Keempat orang tersebut (tidak termasuk presiden AFS Italia dan Andrea), adalah teman seperjuanganku menembus perbedaan budaya di Kota Cesena. 😀 Duh kangennya.

Kembali ke Roma :D. Di dalam kereta yang membawaku ke Cesena, aku semakin ‘terbelalak’ dengan negeri ini. Kami melewati pegunungan (seringkali terowongan panjang) dan melihat apa yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Yang sangat unik aku lihat adalah beberapa rumah seringkali terpisah dari pemukiman lain di lereng gunung, seperti desa hobbit di film Lord of the Ring. Semua hijau (tapi berupa padang rumput) dengan pohon-pohon yang tertata rapi. Di Indonesia, pohon-pohon terlihat berdesakan karena saking suburnya. Tapi di sini, pohon-pohon lebih jarang dan tertata rapi. Italia adalah negara dengan lebih dari 70% adalah perbukitan. Jadi, di mana-mana adalah perbukitan yang benar-benar indah. Jika kalian melihat desa-desa indah Eropa dalam film-film barat, maka seperti itulah wujud Italia. Dimana-mana padang rumput dan perbukitan. Terlalu sulit dilupakan, bahkan jika aku terkena gegar otak sekalipun.

Bukan hanya perbukitan dan padang rumput, kami juga melintasi pesisir pantai dengan kereta api. Inilah luar biasanya Italia dibandingkan negara Eropa lain. Italia dikelilingi pantai yang menjadikannya sangat spesial. Bukan hanya keindahan dataran tinggi, pantai pun dimiliki, sebagian besar kota bisa menggapai pantai hanya dalam waktu 2-3 jam.

 

Oke, cerita kita persingkat saja, karena cerita dalam kereta api saja bisa menghabiskan memori di blog ini hahaha 😀

Aku, Eyrun, Francisco, Daniela, dan Anna tiba di Cesena. Cesena adalah kota besar untuk ukuran Italia (90 ribu penduduk), tapi untuk ukuran Indonesia, dianggap kota kecil. Itulah kenapa aku selalu bersikeras bahwa Kota asalku, Kota Banjarbaru adalah Kota besar, karena terdiri dari 199 ribu penduduk. Bandingkan dengan kota Jakarta yang terdiri dari 11 juta penduduk dan Kota Surabaya yang terdiri dari 3 juta penduduk, Cesena dan Banjarbaru akan terlihat sangat kerdil. Sayangnya, Kota ini jauh lebih memberikan banyak pelajaran hidup daripada kota lain yang pernah aku tinggali. 🙂 Hal itu juga yang memberikanku keyakinan yang sangat besar, bahwa di manapun kita tinggal, kita tetap bisa belajar seluas-luasnya. Yang membatasi kita adalah pikiran kita yang terbuka atau tidak.

Aku bertemu dengan keluarga angkatku di stasiun kereta api Cesena. Keluarga yang sangat luar biasa dengan nama keluarga ‘Fiori’. Fiori artinya bunga.  Aku sangat suka bunga. Ibuku bernama Angela, ayahku Paolo, dan saudara angkatku bernama Lorenzo dan Enrico. Pada tahun yang sama denganku, Enrico juga mengikuti AFS ke Amerika Serikat. Sehingga, dalam apartemen keluargaku, terdapat empat orang. Keluarga inilah yang benar-benar membuka isi kepalaku mengenani Italia. Ayah dan Ibu kandungku selalu membuka wawasanku mengenai dunia, mengajariku membaca, berhitung, bahasa inggris, mengaji, cerita-cerita luar angkasa, dan lain-lain. Sebesar apapun kontribusi keluarga Fiori dalam hidupku, aku tidak mungkin melupakan bahwa orang tua kandungku lah yang paling berjasa membuka wawasanku terhadap dunia. Hiks jadi kangen orang tuaku di Banjarbaru. 😥

 

Hal yang sangat unik, begitu sampai di rumah Fiori, aku langsung diajak jalan-jalan naik sepeda (ada empat sepeda) berkeliling Cesena. Cesena sangat indah dan ramah untuk bersepeda (tentu saja). Cesena merupakan kota yang sangat Italia. Sebenarnya, hampir semua Kota di Italia adalah sangat Italia. Dulu, beratus-ratus tahun yang lalu, Italia tidaklah ada. Daerah yang saat ini bernama Italia, dulunya merupakan kerajaan-kerajaan, ada kerajaan Fiorentina, kerajaan Roma, Venesia, Tuskani, dll. Pada tahun 1900-an, muncullah gagasan untuk menyatukan daerah-daerah ini, sehingga muncul sebuah negara bernama Italia. Italia sendiri berkembang sangat-sangat pesat pada 1960 ke atas. Jika di Indonesia pada tahun 1970-an (bahkan hingga kini) marak menggunakan Vespa, maka itulah bukti kemajuan Italia. Vespa merupakan inovasi Italia. Saat ini, contoh produk Italia yang terkenal lainnya adalah mobil Fiat dan klub sepakbola (tentu saja 😀 ) Menurut cerita Paolo (ayah angkatku), pada tahun 1960-an lah, muncul sebuah ledakan industri besar-besaran yang sangat mempengaruhi Italia dan membawanya menjadi negara maju (setelah sebelumnya terbelakang dalam perang dunia 2).

Supaya tidak bingung, aku ceritakan dulu sejarah kerajaan Romawi yang membuat Italia menjadi sangat spesial di mata dunia. Dulu, pada sekitar tahun 700 SM, kerajaan Romawi adalah kerajaan terbesar di Eropa, dan pusatnya adalah di kota Roma. Itulah sebabnya di Kota Roma banyak sekali peninggalan kerajaan Romawi seperti Koloseum, air mancur Trevi, dll. Pada sekitar tahun 200-an Masehi, kerajaan Romawi runtuh. Sehingga, pada 400-1000 masehi Eropa dilanda krisis dan hidup dalam kegelapan. Jika kalian pernah mendengar masa kegelapan Eropa / Dark Age,  maka itulah masa dimana Eropa hidup dalam wabah penyakit sehingga banyak yang meninggal sia-sia. Namun, pada sekitar 1300 Masehi, kerajaan-kerajaan di Italia bangkit lagi, dan membentuk peradaban di mana Italia menjadi pelopor kebangkitan Eropa dari masa kegelapan. Salah satu kerajaan di Italia yang sangat berpengaruh adalah Fiorentina (di bawah keluarga bangsawan Medici). Pada masa kebangkitan inilah, banyak sekali hal-hal baru di Italia. Jika kalian pernah mendengar menara Pisa dan Duomo Fiorentina ataupun Duomo Milan, lukisan Leonardo da Vinci, Paolo Ucello, dll maka hal-hal tersebut adalah hasil karya abad kebangkitan Eropa yang dipelopori Italia. Itulah sebabnya, Italia sangat terkenal dengan sejarah dan kebudayaannya, karena bisa dibilang, di Italia lah terjadi poros kehidupan masa lalu Eropa bahkan hingga hampir tiga milenium sebelumnya.

Keluarga angkatku sangat mengerti bahwa aku adalah anak Indonesia, yang berasal dari Asia Tenggara, yang pasti buta mengenai Eropa dan sejarahnya. Eropa adalah wilayah kecil, jauh lebih kecil dari Afrika, tapi power yang dimilikinya sangat mencengangkan. Orang-orang Eropa lah yang menjajah Australia, dan bermukim di sana. Begitupun Amerika, dijajah dan orang Eropa bermukim di sana. Dengan kata lain, orang-orang Amerika dan Australia adalah orang Eropa juga, atau setidaknya keturunan Eropa. Bisa dibayangkan betapa berpengaruhnya peradaban Eropa terhadap dunia. Indonesia pun termasuk terkena pengaruhnya, bisa dilihat dengan adanya bangsa Spanyol, Portugis, dan Belanda yang ‘mampir’ ke Indonesia selama ratusan tahun. Semuanya adalah orang Eropa.

Hal inilah yang membuat poros kehidupanku serasa dibalik dan diputar-putar, menyadari bahwa dunia sangat luas, bahkan terlalu luas jika berkaca pada sejarah. Keluarga angkatku sedikit demi sedikit mengajarkan bagaimana caranya melihat dunia. Di kamarku diletakkan sebuah peta dunia yang sangat besar. Setiap hari aku melihat peta tersebut. Kagum. Begitu luas dunia. Aku hanya mengetahui Italia, dan sedikit mengenai Eropa. Keluargaku mengajak membuka mata dan menyelami apa itu Italia.

Aku hanya mengikuti 10 mata pelajaran di sekolahku dengan teman-teman luar biasa. Jadwalku dibagi ke dalam empat kelas. Tujuannya, supaya aku punya banyak teman. Bahasa Jerman dengan kelas A, olahraga dengan kelas B, begitu seterusnya. Karena hanya 10 mata pelajaran inilah, aku memiliki banyak waktu. Bersama dengan Anna, Eyrun, Francisco, dan Daniela, kami tenggelam dalam kehidupan antarbudaya. Kami saling menceritakan negara masing-masing, sambil minum coklat hangat atau makan es krim di kafe. Pergi ke perpustakaan, museum, dan tempat-tempat yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Berkenalan dengan orang-orang baru, dan tentu saja, dengan Bahasa Italia, mulai dari ‘Ciao’, ‘Buon Giorno’, dll.

Yang membuat kami sangat bahagia adalah, masakan Italia sangat enak dan nikmat. Masakan rumah di sana, jauh lebih tinggi kualitasnya dibandingkan restoran Eropa di Indonesia. Aku bodoh banget ngga ngambil kursus masak Italia. Aku cuma diajari ‘basic’ memasak spaghetti, makaroni, dll. Yang paling membuat aku bersyukur, orang Italia sangat sering makan Pasta (Spaghetti, Tagliatelle, Macaroni, dll), pizza, cappeletti,  dan sangat jarang makan daging babi. Sebagai muslim, tentu saja ini mempermudah kehidupanku. Bahkan, mencari daging halal sangatlah mudah. Yang lebih aku syukuri adalah, keluarga angkatku tidak memelihara anjing, hanya seekor kucing gendut jinak berwarna hitam. Aku yakin, kehidupanku jauh lebih mudah daripada 90% peserta pertukaran pelajar lain.

Bukan cuma itu, profesor di sekolahku sangat membantu sekali dengan keberadaanku. Aku sangat dibantu. Bahkan buku-buku pelajaran dan materi pelajaran yang berhubungan dengan budaya disesuaikan dengan kemampuanku. Kenapa? Misalkan ada pelajaran sejarah seni, maka tentu saja aku tidak langsung ‘advanced’ ke sejarah seni Italia yang membingungkan. Profesor sejarah seniku bisa dibilang ‘orang gila’. Mengerti kehidupan dan mengerti pandangan pelajar Indonesia. Orangnya bapak-bapak tua yang setiap hari naik sepeda ke sekolah, tapi adalah seorang profesor di bidang seni (semua guru, bahkan guru SD di Italia, harus profesor). Tugasku pertamaku sangat menyenangkan. Aku diminta membuat kaligrafi kalimat “La Storia dell’Arte” yang diwarnai dalam bendera Italia sebagus mungkin dan “Sejarah Seni” yag diwarnai dalam bendera Indonesia. Lalu aku diberi sebuah gambar di bawah ini dan ditempel di buku tulis tersebut. Inilah karya seni Italia pertama yang diperkenalkan oleh guruku.

Karya tersebut merupakan mahakarya Michelangelo Buonarotti, yang dilukis di langit-langit museum suci Vatikan. Pada pertemuan-pertemuan selanjutnya di sejarah seni, aku diberi banyak gambar yang harus ditempel di buku tulis dan diberi deskripsi. Tujuaannya agar aku belajar seni Italia (Eropa) itu seperti apa. Banyak sekali karya yang dikenalkan, sampai akhirnya aku diberi karya Leonardo da Vinci. Leonardo da Vinci ternyata bukanlah pelukis yang dibanggakan profesorku. Karena pada dasarnya, yang menemukan teknik desain, teknik proyeksi, melukis afresko, dll bukan hanya Da Vinci, tetapi masih ratusan bahkan ribuan pelukis lain yang membangun teknik melukis pelukis Italia angkatan Da Vinci.

Waktu demi waktu, aku mengelilingi Italia. Dari Venesia, Pisa, Roma, Vatikan, Urbino, Ravenna, Milan, Sisilia, Lucca, Rimini, Turin, Bologna, dll. Aku tidak mengelilingi Eropa, tapi aku sudah sangat bahagia bisa mengenal orang-orang dan dunia Italia. Bahkan aku yakin, orang dari negara Eropa lain malah berebut untuk datang ke Italia, karena Italia lah surga dari perjalanan budaya Eropa. Aku naik ke berbagai gunung salju dan menjelajahi gunung salju tersebut, bermain-main dengan salju, ke pantai, ke berbagai daerah yang membuat terbelalak mata dan jiwa. Pernah aku diajak ke sebuah gunung salju yang luar biasa indah bernama Fumaiolo, yang pemandangannya sangat tidak ‘manusiawi’ untuk orang Indonesia. Semua putih. Aku merasa seperti bukan di dunia.

188353_1894703004851_2755464_n

Bahkan Cesena sendiri, dikelilingi perbukitan. Aku selalu menjelajahi perbukitan tersebut satu demi satu bersama teman-teman. Pernah aku naik ke salah satu bukit seorang diri, cukup landai, tapi  aku malah bertemu ular kobra dan langsung lari terpingkal-pingkal ke jalan raya. Seminggu di Roma sebanyak dua kali, aku melihat dunia yang benar-benar ‘di luar kepala’. Catatan perjalananku yang lebih lengkap bisa dilihat di kategori ‘AFS Italia-Indonesia 2010-2011’ di blog ini.

Hal lain yang membuat Italia semakin luar biasa, adalah begitu banyaknya festival di negeri ini. Setiap akhir pekan, selalu ada perayaan di pusat kota. Dari pameran buku, pentas seni, pergerakan, dll. Aku sangat menikmatinya. Bahkan, pada libur akhir tahun (dibarengi Natal) kota berubah menjadi ‘surga baru’ di mana berkelap-kelip dan bercampur dengan salju. Terlalu romantis untuk orang Indonesia yang belum pernah melihat salju.

Bukan hanya itu, ketika memasuki musim panas, wilayah yang luar biasa dijelajahi adalah pantai. Aku pernah pergi ke pantai bertebing di Kota Cattolica (tempat tinggal Alessandro Trabucco, timnas Indonesia yang memutuskan masuk AC Cesena junior) dengan sebuah keluarga. Keluarga tersebut memiliki seorang anak perempuan berumur sepuluh tahun yang berenang sampai jauh ke tengah pantai. Luar biasa.

Terlalu banyak yang terlelap di dalam jiwaku untuk dituliskan mengenai AFS itu sendiri. Pertukaran pelajar bukanlah ajang untuk pamer, karena jika tujuan kita berangkat untuk pamer, maka sudah pasti merugi ketika sampai di sana. Pertukaran pelajar adalah cara untuk membuka mata dan pola pikir serta memahami kebudayaan lain. Pada 10 Juli 2011, aku akhirnya meninggalkan Italia dengan harapan suatu hari nanti akan kembali lagi. Aku selalu merindukan semua orang yang sangat membantuku memahami budaya, terutama keluarga Fiori. Aku sangat menyayangi mereka, dan suatu saat berjanji untuk kembali.

Jika ada adik-adik yang merasa pertukaran pelajar tidak penting, bukalah pikiran, ambillah kesempatan (jika ada) untuk berangkat AFS/YES, karena kesempatan melihat kehidupan budaya hanya ada saat pertukaran seperti ini. Jika kita bisa kuliah atau bekerja di Italia pun, belum tentu kenangannya akan semanis ketika mengikuti pertukaran pelajar. Bukan keinginan ‘jalan-jalan’ saja yang harus ada, tapi keingintahuan juga harus dijadikan modal saat berangkat nanti.

Banyak jalan menuju Roma, selalu ada jalan untuk menuju Roma. Semangat untuk adik-adik yang berjuang meraih mimpinya 🙂

Advertisements

Aside

1 Comment (+add yours?)

  1. Mutawakkil al madani
    Sep 04, 2014 @ 13:49:51

    keren banget, sy sangat jatuh cinta dgn Italia hehehe, ingin skali sy lanjut S2 disana tp smntra ini msh fokus S1 , namun sy perlu belajar bahasa Italia juga , mudah”an ada rezeki untuk ke Italia amiiiiin, baca cerita pengalaman Dhea menambah rasa penasaranku tentang Italia, sy tinggal di kota Baubau, pulau Buton, Sulawesi tenggara, sy kuliah di Univ. swasta di kotaku n bnyk yg bilang susah melanjutkan S2 kalo lulusan S1nya dr kampung dan tdk terkenal di Indonesia hehehe tp sy tdk mw pantang menyerah ^_^ hehehe, sy jatuh cinta sm Italia itu sejak menonton film LETTER’S TO JULIET di kota Verona,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tulisan Dhea

Kategori Tulisan

My Posting Calendar

April 2014
M T W T F S S
« Feb   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: